Marcelo, Representasi Bek Kiri Modern Terbaik

Pemberitahuan:

- Jika Video Couldn't load Plug-in Harap Instal Aplikasi Puffin Browser.
Download Di googleplay anda Klik >> DOWNLOAD Puffin Browser install ,
kemudian buka aplikasinya, setelah selesai coba buka kembali live streaming :D

LihatBola – Dalam sepakbola, bek kiri adalah keistimewaan. Posisi ini tak bisa diisi oleh sembarang pemain. Posisi ini biasanya lebih efektif apabila dihuni pemain kidal, jumlahnya pun tentu lebih sedikit dibandingkan pemain yang mengandalkan kaki kanan.

Tapi fungsi dan perubahan taktik bek kiri terus berkembang, seperti yang direpresentasikan Marcelo bersama Real Madrid dan timnas Brasil. Marcelo sendiri merupakan salah satu kesuksesan Madrid dalam integrasi pemain muda di bursa transfer. Ia datang saat belum genap berusia 22 tahun dan kini menjadi pemain penting di Madrid selama hampir 10 tahun.

Marcelo didatangkan dari Fluminense pada bursa transfer musim panas 2006. Pada waktu itu di Madrid masih ada Roberto Carlos sebagai bek kiri terbaik di dunia. Keberadaan Carlos tentu tidak membuat Marcelo mendapatkan kesempatan banyak pada musim perdananya.

Di sisi lain, selama itulah ia menyerap ilmu sebanyak mungkin dari seniornya di timnas Brasil maupun di Real Madrid itu. Awalnya pun tidak ada yang tahu banyak tentang siapa Marcelo pada kurun waktu tersebut. Namun, satu musim berguru kepada Carlos sudah cukup bagi Marcelo untuk menjadi bek kiri utama Madrid pada tahun-tahun berikutnya.

Maka sejak musim 2007/2008, Marcelo tidak tergantikan di posisi bek kiri Madrid. Eksistensi Marcelo saat ini pun mampu menggusur bek kiri terbaik di dunia era Ashley Cole dan Patrice Evra. Marcelo membuktikan bahwa ia bukan bek kiri sembarangan. Semakin ia berkembang, semakin pula ia menunjukkan bahwa dirinya merupakan salah satu bek kiri terbaik di dunia saat ini. Malah tak berlebihan jika ia disebut sebagai bek kiri nomor satu dunia saat ini.

Luis Enrique, yang baru saja meninggalkan kursi pelatih Barcelona, memuji Marcelo sebagai pemain yang sering merepotkan kesebelasannya. Menurutnya, meski secara natural ia merupakan pemain bertahan, kemampuannya bisa menebar ancaman bagi setiap lawan.

“Marcelo adalah pemain yang spesial. Dia mampu menciptakan bahaya dengan hanya beberapa sentuhan dan ini adalah salah satu kelebihannya, saya tak perlu lagi mengatakan apapun soal dirinya,” tutur Enrique.

Kecocokan Marcelo dengan Strategi Zinedine Zidane

Sejak memperkuat Madrid pada musim 2006/2007 sampai sekarang, Marcelo sudah merasakan polesan tangan dari delapan pelatih berbeda. Mulai dari Fabio Capello, sampai Zinedine Zidane saat ini. Juga ketika dilatih Carlo Ancelotti pada 2013-2015.

Marcelo dan Carlo Ancelotti di tahun 2014 (Foto: Denis Doyle/Getty Images)

khususnya saat ditukangi Ancelotti. Ia rajin membantu lini serang dan membuat sayap kiri lebih leluasa untuk membuka ruang. Pergerakan itu berawal dari pola serangan Madrid yang bermula dari tengah dan kemudian dialirkan ke sisi lapangan.

Di sanalah selalu ada pemain sayap yang berlari. Tapi jika ruangannya terlalu sempit, bola akan diberikan kepada bek sayapnya dan itulah yang dilakukan Marcelo di sisi kiri sehingga menjadi tumpuan serangan Madrid dari sisi lapangan. Madrid seolah selalu punya pemain tambahan di sisi kiri saat menyerang.

Kemudian Marcelo juga sering melakukan tusukan-tusukan ke tengah yang tidak diduga oleh lawannya, sehingga jarang ada halangan bagi gerakannya tersebut. Peran Marcelo dalam mengubah jalannya pertandingan cukup besar. Contohnya saja ketika final Liga Champions 2013/2014 menghadapi Atletico Madrid di Stadion Da Luz Lisbon, Portugal, pada 24 Mei 2014 lalu.

Coba kita lihat dengan membandingkan performa Angel Di Maria sebelum dan sesudah Marcelo masuk. Hingga menit ke-60, Angel Di Maria hanya melakukan tujuh kali umpan silang, saat itu bek kiri diisi oleh Fabio Coentrao. Ketika Marcelo masuk, ia berhasil melakukan 12 kali umpan silang dan satu percobaan tembakan yang berujung dengan gol yang dicetak Gareth Bale. Marcelo juga menyumbang gol ketiga. Gol Marcelo lahir ketika ia menggiring bola sendirian ke jantung pertahanan Atletico. Melihat ada celah, tanpa pikir panjang ia langsung menendang bola tersebut. Marcelo turut memberi ruang bagi Di Maria untuk bergerak.

Di babak pertama Fabio Coentrao, yang dimainkan posisi bek kiri sejak pertandingan dimulai, tidak rajin naik membantu serangan. Ini mengakibatkan Di Maria menjadi pusat perhatian pada bek Atletico. Sementara ketika Marcelo main, ia sering naik ke depan. Hasilnya, perhatian bek Atletico pun terpecah.

Begitu juga saat gol ketiga Real Madrid terjadi. Dua bek tengah Atletico terlanjur mengikuti laju dua pemain depan Madrid. Demikian halnya dengan Juanfran, bek kanan Atletico, yang terfokus pada Ronaldo. Hal tersebut kemudian memudahkan Marcelo untuk merangsak ke sepertiga lapangan akhir lawan dan melepaskan tembakan.

Tapi Marcelo sempat mengalami penurunan ketika Madrid dilatih Rafael Benitez pada musim 2015/2016. Di bawah arahan Benitez, bek tengah dan gelandang bertahan tak bisa menutupi celah yang ditinggalkan Marcelo saat membantu serangan.

Benitez seperti memberikan tugas ekstra kepada Marcelo untuk bertahan maupun menyerang, tanpa adanya bantuan penutupan ruang dari bek tengah maupun gelandang bertahan. Apalagi para sayap Madrid seperti Cristiano Ronaldo seperti enggan turun bertahan dan ingin terus mencetak gol.

Di sisi lain, Marcelo juga tidak bisa naik turun terus-terusan tanpa ada yang melindungi area bertahannya. Alhasil, sering tercipta ruang kosong di sisi kiri pertahanan Madrid dan menjadi sasaran empuk lawan-lawannya.

Namun tidak dimungkiri juga ada pembangkangan-pembangkangan kepada intruksi pemain kepada Benitez pada waktu itu. Memang situasi ruang ganti Madrid di era Benitez cukup panas, termasuk Ronaldo yang dikabarkan keberatan harus turun ke belakang membantu pertahanan. Berbeda dengan kepelatihan Zidane yang dinilai bisa lebih kondusif dan menjaga mental para pemain-pemainnya.

“Kami tahu apa yang kami inginkan dan apa yang pelatih harapkan dari kami: untuk bermain di pertahanan lawan, mendapatkan bola secara cepat dan menyerang. Hasil pertandingan hari ini adalah kemenangan gemilang kami yang lain. Kami telah bekerja keras untuk bisa seperti ini. Sporting adalah lawan yang tangguh,” kata Marcelo usai laga melawan Sporting Gijon pada April lalu.

Di bawah arahan Zidane, para pemain tampak mengikuti intruksi-intruksinya. Marcelo pun menjadi elemen penting dari strategi Zidane yang memainkan penguasaan bola bertempo cepat. Apalagi kecenderungan serangan Madrid di era Zidane banyak diarahkan ke sisi kiri, tempat yang dilakoni Marcelo dan Ronaldo. Marcelo dengan Ronaldo saling membantu mengeksploitasi sisi pertahanan lawan.

Di sana tercipta kombinasi antara Marcelo dan Ronaldo. Marcelo menjadi sokongan yang baik bagi Ronaldo dengan minimal memberikan 26 operan tepat sasaran kepadanya. Zidane, yang tetap menggunakan sistem serangan balik seperti Ancelotti, menjadikan Marcelo sebagai kontribusi serangan yang penting.

Di bawah arahan Zidane, Marcelo juga tidak keberatan ketika dibatasi agresivitas serangannya kala harus bermain bertahan. Tapi ketika bertahan itulah Marcelo diberi kebebasan untuk mengawali serangan.

Didukung dengan Rekan yang Menunjang

Salah satu penunjang Marcelo mampu bermain baik adalah memiliki patner yang setia mendukungnya. Di Real Madrid maupun timnas Brasil, selalu ada bek tengah atau gelandang bertahan yang rela melindungi area pertahanannya ketika sedang menyerang. Ketika di Brasil, David Luiz atau Gustavo rela mengisi areanya sehingga Marcelo tidak teralu kewalahan.

Sementara di Madrid, selalu ada Sergio Ramos yang rela melindungi area pertahanan sisi kiri ketika Marcelo menyerang. Sementara area yang ditinggal Ramos akan ditutupi oleh Casemiro sebagai gelandang bertahan. Apalagi Ramos dan Casemiro memiliki tugas bertahan yang baik. Sistem itu cukup mampu menghadapi lawan dengan pemain sayap yang lincah dan cepat, meskipun Marcelo konsentrasi membangun serangan bersama Ronaldo.

Ketika berada di wilayah lawan, Marcelo tidak hanya ditugaskan untuk fokus menyerang. Tapi ia juga bertugas sebagai sosok utama yang menekan pemain sayap lawan. Tugas itu dilakukan ketika lawan menguasai bola di sisi lapangan wilayahnya sendiri. Pada bagian itulah Madrid menjadi kesebelasan yang memulai serangan dari sayap. Setelah Marcelo memberikan tekanan kepada sayap lawan dan mendapatkan bola, kemudian serangan bergerak ke tengah dengan cepat.

Pada sistem itulah Marcelo memiliki koneksi lebih dekat dengan Karim Benzema yang sering menjadi penyerang tengah sebagai false nine. Benzema sering bergerak melebar ke kiri ketika menjalani tugas sebagai “penyerang palsu”. Hal itu agar memberikan ruang khusus kepada Marcelo di area depan kotak penalti. Di sana ia bisa menusuk ke jarak antara bek lawan, atau menjadi pemantul umpan satu dua dengan Benzema dan rekannya yang lain.

Marcelo merupakan bek kiri murni yang penuh dengan skill, terutama soal dribble bola. Selama La Liga 2016/2017, Marcelo sanggup melakukan 1,4 dribble sukses per laga dan 2,6 di setiap pertandingan Liga Champions. Begitu pun dengan kemampuannya mengoper bola dan melepaskan umpan silang. Musim ini ia berhasil melepaskan 1,5 umpan kunci di setiap pertandingan La Liga dan 2,1 di setiap laga Liga Champions. Hasilnya, Marcelo sudah menyumbang 10 assist di La Liga dan satu kali di Liga Champions musim ini.

Kemampuan lainnya adalah bisa menahan bola yang baik, sehingga berguna ketika mempertahankan bola di sisi lapangan. Keahliannya itulah yang bisa memberikan ruang bagi rekan-rekannya di sana. Ruang yang membuat rekan-rekannya semakin besar, termasuk dirinya sendiri sebagai salah satu bek kiri bertipikal menyerang terbaik di dunia saat ini.

 

Sumber : Wikipedia

tag : #Pandit Bola Internasional

Berita Terkait