Pandit Dario Hubner, Raja Gol yang Gemar Merokok

lihatbola.live – “Saya tidak ingin mengeluh,” kata Dario Hubner setelah memutuskan untuk pensiun dari sepakbola di usia 44 tahun. “Saagt masih muda, saya seorang tukang pandai besi dan berkutat terus dengan alumunium. Jadi siapa yang mengira jika saya memiliki karier sejauh ini? Saya sudah sangat senan.”

Di era 90-an, nama Dario Hubner adalah raja di Italia. Lebih tepatnya raja gol. Di kesebelasan mana pun yang ia bela, gol demi gol bergelontoran dari kaki maupun kepalanya. Di Serie B, pemain kelahiran 28 April 1967 ini mencetak 116 gol dari 234 penampilan. Sementara di Serie A, 74 gol dicetaknya dari 143 penampilan. Jika ditotal dengan gol-golnya di Serie C, maka lebih dari 300 gol telah dibuatnya.

Meskipun memiliki kemampuan mencetak gol yang dahsyat, ia tak pernah singgah ke kesebelasan besar. Bahkan timnas Italia pun tak pernah meliriknya, yang sempat memunculkan perdebatan karena saat itu Hubner berstatus pencetak gol terbanyak Italia.

Tapi Hubner adalah pria yang rendah hati, seperti apa yang ia katakan di pembuka tulisan ini. Alih-alih menyesali kariernya yang tak pernah mengangkat piala dan tak pernah membela kesebelasan besar meski kemampuan mencetak golnya di atas rata-rata, ia lebih mensyukuri bahwa sepakbola telah menjadi bagian penting kehidupannya selama bertahun-tahun.

***
Jika melihat rekam jejak karier pemain-pemain bintang di dunia, mayoritas mereka sudah terlihat bakatnya sejak kecil. Mereka sudah bergabung dengan akademi untuk memantapkan kemampuannya dan kemudian pemandu bakat mengajaknya bergabung ke kesebelasan besar.

Namun Hubner tidak demikian. Ia membela kesebelasan pertamanya di usia 20 tahun, terbilang telat untuk seorang pesepakbola. Sebelum itu, ia menghabiskan masa mudanya dengan bekerja sebagai tukang pandai besi.

Hubner memang lahir di tengah keterbatasan ekonomi. Sejak sekolah setingkat SMP, ia sudah harus bekerja untuk menghidupi keluarganya. Bahkan saat itu ia tidak peduli dengan sekolahnya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bekerja, bekerja, dan bekerja.

“Di kelas delapan, saya berkata seperti ini pada guru saya, ‘Entah apakah saya akan diberikan kelulusan atau tidak oleh Anda, (tapi) saya tetap akan bekerja besok’,” ujar Hubner seperti yang dikutipĀ zonacesarini.net.

Di usia 18 tahun, ia belum membela kesebelasan profesional karena kesibukannya sebagai tukang kayu, besi, serta almunium. Selama 10 jam per hari ia menggeluti pekerjaannya ini. Ia membangun atau memperbaiki perahu-perahu di pelabuhan Kota Trieste.

Karena kesibukannya sebagai pekerja, ia sangat lekat dengan rokok. Apalagi tak pernah terbayangkan bahwa ia akan berkarier sebagai sepakbola.

Namun pada usia 20 tahun, jalan hidup Hubner berubah. Saat itu ia ditawari untuk bergabung dengan kesebelasan amatir yang berlaga di Serie D, Pievigina. Dan ternyata baru diketahuilah bahwa bakat Hubner sangat luar biasa. Kala itu ia langsung mencetak 10 gol dari 25 penampilan.

Sepakbola sendiri sebenarnya bukan hal asing bagi Hubner. Meski jarang memainkannya, tapi Hubner merupakan seseorang yang sangat menggemari sepakbola. Saat masa-masanya sebagai pekerja, ia tak pernah melewatkan satu pertandingan kesebelasan favoritnya, Internazionale Milan.

Tangga karier Hubner pun perlahan ditapaki olehnya. Setelah Serie D, ia bergabung dengan kesebelasan Serie C, Pregrocema. Di kesebelasan inilah ia mulai berkarier sebagai pesepakbola profesional. Meski tidak banyak mencetak gol, hanya 11 gol dari 30 penampilan, namun kengototan dalam bermainnya langsung mencuri perhatian penonton. Apalagi penampilannya cukup khas, dengan rambut ikal dan kumis-janggut yang melingkar di mulutnya. Saat itu ia mulai mendapatkan julukan Tatanka, yang berarti bison dalam bahasa lokal Amerika Serikat.

Karier sepakbola Hubner semakin menanjak setelah ia bergabung dengan kesebelasan Serie C lainnya, Fano. Dari 88 penampilan, ia mencetak 25 gol. Dari situ ia berhasil naik level ke Serie B saat hijrah ke Cesena. Di Serie B, ia mencetak 74 gol dari 166 penampilan selama lima musim. Jika dirata-ratakan, pemain kelahiran kota Muggia ini mencetak satu gol dalam dua pertandingan.

Cesena sendiri kemudian diakui Hubner sebagai tonggak awal kesuksesannya di sepakbola. Ia mengatakan bahwa Cesena adalah titik di mana ia semakin menikmati kariernya sebagai pesepakbola. Ia bisa bermain dengan kualitas tinggi meski ia sebenarnya tidak memiliki bakat sepakbola dari akademi. Apalagi di Cesena ia sempat menjadi pencetak gol terbanyak Serie B dengan 22 gol dalam satu musim.

“Cesena merupakan momen terpenting dalam hidup saya,” kata Hubner saat diwawancarai asroma.co.uk. “Cesena menjadikan saya sebagai pesepakbola sebenar-benarnya. Saya bermain di level permainan berbeda di sana. Saya harus menunjukkan kualitas sebagai pemain. Semuanya dimulai dari sana.”

Sebagai penyerang, Hubner memang bukan pemain yang ber-skill tinggi. Namun, ia merupakan pemain yang pandai mencari ruang kosong. Bisa dibilang, ia adalah versi lebih baik dari Filippo Inzaghi. Apalagi Hubner punya kemampuan tambahan yakni mengeksekusi tendangan bebas dan tendangan penalti.

Lima musim di Cesena, Hubner pindah ke Brescia karena Cesena terdegradasi. Di Brescia, kemampuan mencetak golnya semakin menggila. Empat musim di Brescia, ia mencetak 75 gol dari 129 pertandingan. Ini artinya ia mencetak satu gol setiap 154 menit.

Sebenarnya tak heran Hubner mencetak lebih banyak gol di Brescia. Hal ini dikarenakan ia dikelilingi pemain-pemain yang lebih bertalenta. Saat itu, ia bertandem dengan pemain yang kemudian menjadi legenda Italia, Roberto Baggio. Saat itu juga ia menerima umpan-umpan matang dari pemain muda yang kemudian juga menjadi legenda Italia, Andrea Pirlo.

 

“Saya mencetak banyak gol di Brescia. Saya sangat menikmati saat di sana. Saya bermain dengan tenang. Tapi permainan bagus saya juga tak lepas dari pemain-pemain hebat yang menjadi rekan saya. Gelandang serang, pemain sayap, penyerang kedua, semua pemain yang pernah bermain bersama saya. Saah satunya Roberto Baggio, tapi masih banyak juga pemain lain.”

Bersama Brescia, Hubner pada akhirnya berhasil mencicipi divisi teratas Italia, Serie A, pada 1997, di mana saat itu Brescia merupakan kesebelasan promosi. Hal itu tentu menjadi pencapaian besar dalam kariernya, apalagi 10 tahun sebelumnya ia baru memulai karier di Serie D.

Saat menjalani debut Serie A, Hubner memang tidak muda lagi, sudah berusia 30 tahun. Tapi jangan ragukan kemampuannya, karena pada laga debutnya di Serie A, ia langsung mencetak gol. Uniknya, ia membobol gawang kesebelasan yang ia sukai, yaitu Inter.

Pada laga yang digelar di Giuseppe Meazza itu, para penonton sebenarnya ingin melihat debut pemain Inter yang baru diboyong dari Barcelona, Ronaldo Nazario. Namun Hubner justru mencuri panggung Ronaldo lewat golnya. Kala itu ia menerima umpan chip Pirlo, yang kemudian ia menahan bola, balik badan mengelabui Fabio Galante, dan tendangannya menaklukkan kiper Inter, Gianluca Pagliuca.

Sensasi Hubner semakin menyeruak karena seminggu setelahnya, ia mencetak hat-trick ke gawang Sampdoria. Hubner lantas menjadi pemain yang paling diperbincangkan di Serie A karena sebelumnya ia tak diketahui asal muasalnya.

Di Brescia juga Hubner semakin dikenal sebagai pemain yang gemar merokok. Ia beberapa kali tertangkap kamera sedang merokok di bangku pemain pengganti. Bagi pelatih dan rekan setimnya sendiri, kebiasaan buruk Hubner tersebut bukan hal yang aneh.

Namun meski kecanduan merokok, yang kabarnya ia bisa merokok 30 batang per hari, stamina Hubner merupakan salah satu yang terbaik. Hal ini tak lepas dari etos kerja dan kengototan Hubner setiap bermain. Ia sendiri sudah terbiasa bekerja keras atas apapun yang ia kerjakan.

Lima tahun setelah debutnya di Serie A, pencapaian Hubner sebagai pencetak gol ulung mencapai puncaknya. Pada musim 2001/2002, saat itu ia membela Piacenza, ia berhasil menjadi pencetak gol terbanyak Serie A dengan 24 gol.

Perlu diketahui, saat itu Hubner sudah berusia 35 tahun, dan menjadi top skorer tertua sepanjang sejarah Italia sebelum dipecahkan Luca Toni pada musim 2014/2015, mencetak 22 gol untuk Hellas Verona di usia 38 tahun. Ia mengalahkan penyerang-penyerang berkualitas lainnya yang lebih muda macam Christian Vieri, Andriy Shevchenko, Hernan Crespo, Alessandro Del Piero, Marco Di Vaio, hingga Vincenzo Montella.

Saat Hubner meraih capocannoniere alias pencetak gol terbanyak Serie A itu, banyak yang berpendapat bahwa ia layak dipanggil ke timnas Italia yang akan berlaga di Piala Dunia 2002. Namun pelatih timnas Italia saat itu, Giovanni Trapattoni, enggan memanggil Hubner — Italia pada prosesnya tersingkir pada babak perempatfinal oleh tuan rumah, Korea Selatan.

Piacenza sendiri, saat berhasil menjadikan Hubner sebagai topskorer, mengakhiri musim di posisi 15 klasemen atau cuma berjarak tiga poin dengan zona degradasi. Berbeda dengan David Trezeguet, penyerang Juventus yang juga menorehkan jumlah gol yang sama. Hubner tak dikelilingi pemain-pemain hebat saat itu. Itulah yang membuat banyak orang beranggapan bahwa secara kemampuan Hubner cukup layak dipanggil ke timnas.

Namun kebiasaan merokok Hubner-lah yang disebut-sebut menjadi penghalang bagi kariernya, baik itu ke timnas maupun ke kesebelasan besar. “Jika bukan karena rokok, Hubner akan menjadi salah satu talenta terbaik Italia,” ujar pemilik Brescia, Luigi Corioni.

Di Piacenza, Hubner mencetak 38 gol dari 60 penampilan dalam dua musim. Setelah itu kemampuannya memang mulai tergerus untuk bermain di level atas. Namun meski saat itu usianya sudah semakin uzur, Hubner belum mau gantung sepatu. Ia bahkan sempat bermain di Serie C, membela Mantova, di mana ia berhasil mencetak 22 gol dari 23 pertandingan di usia 38 tahun.

Setelah itu ia membela beberapa kesebelasan amatir Italia yang berlaga di Serie D. Keputusan gantung sepatu ia ambil setelah Hubner menginjak usia 44 tahun. Sempat tak memiliki pekerjaan selama bertahun-tahun, Hubner baru saja mengikuti kursus kepelatihan pada awal tahun 2017. Tanpa sepakbola ia merasa hampa, sehingga akhirnya ia ingin kembali berkarier di sepakbola dengan menjadi pelatih.

“Sekarang saya sedang berusaha mendapatkan lisensi kepelatihan di Coverciano. Bagaimanapun, sepakbola akan selalu menjadi bagian dari hidup saya,” ujar Hubner yang berulang tahun ke-50 hari ini, 28 April 2017.

 

tag : #Pandit Bola Internasional

Berita Terkait